Senin, 16 November 2009
Keluhan
Mengeluh itu ibarat masturbasi, siapapun yang menanggapi keluhan sesungguhnya membantu memuncakkannya menjadi orgasme.
Minggu, 15 November 2009
Anakku Terlahir Sebagai Perempuan
Anakku terlahir dengan jenis kelamin perempuan, sebagaimana sudah diramalkan dan juga diharapkan. Keperempuannya diramalkan karena jenis kelamin anak-anak dari keempat kakakku membentuk pola yang menarik. Semua anak dari kakak pertamaku berjenis kelamin perempuan, kakak keduaku semua anaknya berjenis kelamin laki-laki, begitu seterusnya perempuan-laki-perempuan-laki dan sampai pada diriku sebagai anak kelima orang-orang menduga bahwa anak-anakku kelak semuanya adalah perempuan. Ramalan mereka benar, setidaknya untuk sementara benar. Tapi aku kuat menduga ini semua hanya kebetulan saja. Sementara itu, ibu dan ayah dari istriku memiliki tiga cucu dari anak pertama yang semuanya lelaki; mereka mengharapkan cucu dari kami akan berjenis kelamin perempuan. Begitulah, ketika sang perempuan ini akhirnya muncul sesuai pengharapan, mereka berdua meminta agar ditaruh dulu di rumah mereka. Kami sih ok saja.
Waktu di sekolah menengah kita dikasih tahu bahwa kita memiliki 23 pasang kromosom yang mana separuh dari ibu dan separuh dari ayah. Ada sepasang kromosom yang kemudian disebut kromosom sex yang jika pasangan tersebut berupa XX akan menjadi perempuan sementara jika pasangan tersebut berupa XY akan menjadi anak laki-laki. Saat ini kita tahu bahwa kejadiannya tidak sesederhana itu.
Ahli biologi mengatakan bahwa jenis kelamin default manusia adalah perempuan, berbeda dengan, misalnya, jenis kelamin default burung yang laki-laki. Artinya jika tidak dilelakikan, seorang janin akan menjadi perempuan. Kehadiran kromosom Y adalah salah satu hal utama yang melelakikan janin. Pada minggu ke-5, janin mengembangkan gonad berpotensi ganda yang dapat berkembang menjadi testis atau ovarium. Apabila terdapat kromosom Y, pada minggu ke-7 gonad berkembang menjadi testis. Sementara jika tidak ada kromosom Y, gonad akan bersantai-santai dulu sebelum berkembang menjadi ovarium pada minggu ke-13.
Meskipun demikian, menjadi laki-laki atau perempuan tidak otomatis terjadi dengan kehadiran ovarium atau testis. Masih banyak lagi struktur berpotensi ganda lain yang secara tidak langsung dipengaruhi oleh sekresi hormon steroid yang dihasilkan oleh testis yang dikenal dengan androgen (diproduksi pada minggu ke-8). Kehadiran androgen inilah yang mengakibatkan struktur berpotensi ganda tersebut menjadi organ laki-laki (ujung penis, batang penis dan skrotum) dan ketidakhadiran androgen akan menjadikannya organ perempuan (klitoris, labia minora dan labia mayora). Janin juga menyiapkan dua saluran, yakni Wolffian dan Mullerian. Kehadiran androgen akan mengakibatkan Wolffian menjadi vesikula seminalis, vas deferens dan epididimis (saluran-saluran kepunyaan laki-laki) sementara saluran Mullerian akan menyusut. Jika yang terjadi sebaliknya yakni androgen tidak hadir, saluran Wolffian akan menyusut sementara saluran Mullerian akan berkembang menjadi rahim, tuba fallopi dan bagaian dalam vagina (saluran-saluran kepunyaan perempuan).
Itu jika kejadiannya sesuai rencana. Faktanya, proses di atas memerlukan rangkaian panjang yang melibatkan enzim-enzim yang dihasilkan gen-gen yang pada gilirannya memicu gen-gen lain untuk menghasilkan enzim-enzim. Jika proses ini terganggu, misalnya karena mutasi salah satu gen, akan terlahir bocah yang transjender. Misalnya janin berhasil menghasilkan testis tapi gagal mengembangkan saluran-saluran khas laki-laki dan akibatnya terlahir bocah dengan vagina yang menunjukkan keperempuanannya tapi ternyata sebenarnya bocah tersebut laki-laki dengan terbukti secara genetis dan keberadaan testis (biasanya diketahui setelah dewasa dengan keluhan tidak kunjung haidh dan uji genetis memastikan kelelakiannya). Contoh-contoh kelainan yang lain menunjukkan bahwa sebenarnya jenis kelamin tidak se-rigid yang kita duga.
Aku ceritakan ini dengan suatu pengharapan semoga anakku menjadi dan akan terus menjadi perempuan yang normal sehingga tidak menghadapi problema sosial yang dihadapi saudara-saudaranya yang transjender. Lebih jauh, semoga suatu saat jika dia membaca tulisan ini dia mampu mengembangkan empati terhadap mereka yang menghadapi masalah identitas dan orientasi terkait dengan jenis kelamin. Semoga.
Sumber: Mengapa Seks Itu Asyik (terjemahan) karya Jarod Diamond, terbitan KPG.
Waktu di sekolah menengah kita dikasih tahu bahwa kita memiliki 23 pasang kromosom yang mana separuh dari ibu dan separuh dari ayah. Ada sepasang kromosom yang kemudian disebut kromosom sex yang jika pasangan tersebut berupa XX akan menjadi perempuan sementara jika pasangan tersebut berupa XY akan menjadi anak laki-laki. Saat ini kita tahu bahwa kejadiannya tidak sesederhana itu.
Ahli biologi mengatakan bahwa jenis kelamin default manusia adalah perempuan, berbeda dengan, misalnya, jenis kelamin default burung yang laki-laki. Artinya jika tidak dilelakikan, seorang janin akan menjadi perempuan. Kehadiran kromosom Y adalah salah satu hal utama yang melelakikan janin. Pada minggu ke-5, janin mengembangkan gonad berpotensi ganda yang dapat berkembang menjadi testis atau ovarium. Apabila terdapat kromosom Y, pada minggu ke-7 gonad berkembang menjadi testis. Sementara jika tidak ada kromosom Y, gonad akan bersantai-santai dulu sebelum berkembang menjadi ovarium pada minggu ke-13.
Meskipun demikian, menjadi laki-laki atau perempuan tidak otomatis terjadi dengan kehadiran ovarium atau testis. Masih banyak lagi struktur berpotensi ganda lain yang secara tidak langsung dipengaruhi oleh sekresi hormon steroid yang dihasilkan oleh testis yang dikenal dengan androgen (diproduksi pada minggu ke-8). Kehadiran androgen inilah yang mengakibatkan struktur berpotensi ganda tersebut menjadi organ laki-laki (ujung penis, batang penis dan skrotum) dan ketidakhadiran androgen akan menjadikannya organ perempuan (klitoris, labia minora dan labia mayora). Janin juga menyiapkan dua saluran, yakni Wolffian dan Mullerian. Kehadiran androgen akan mengakibatkan Wolffian menjadi vesikula seminalis, vas deferens dan epididimis (saluran-saluran kepunyaan laki-laki) sementara saluran Mullerian akan menyusut. Jika yang terjadi sebaliknya yakni androgen tidak hadir, saluran Wolffian akan menyusut sementara saluran Mullerian akan berkembang menjadi rahim, tuba fallopi dan bagaian dalam vagina (saluran-saluran kepunyaan perempuan).
Itu jika kejadiannya sesuai rencana. Faktanya, proses di atas memerlukan rangkaian panjang yang melibatkan enzim-enzim yang dihasilkan gen-gen yang pada gilirannya memicu gen-gen lain untuk menghasilkan enzim-enzim. Jika proses ini terganggu, misalnya karena mutasi salah satu gen, akan terlahir bocah yang transjender. Misalnya janin berhasil menghasilkan testis tapi gagal mengembangkan saluran-saluran khas laki-laki dan akibatnya terlahir bocah dengan vagina yang menunjukkan keperempuanannya tapi ternyata sebenarnya bocah tersebut laki-laki dengan terbukti secara genetis dan keberadaan testis (biasanya diketahui setelah dewasa dengan keluhan tidak kunjung haidh dan uji genetis memastikan kelelakiannya). Contoh-contoh kelainan yang lain menunjukkan bahwa sebenarnya jenis kelamin tidak se-rigid yang kita duga.
Aku ceritakan ini dengan suatu pengharapan semoga anakku menjadi dan akan terus menjadi perempuan yang normal sehingga tidak menghadapi problema sosial yang dihadapi saudara-saudaranya yang transjender. Lebih jauh, semoga suatu saat jika dia membaca tulisan ini dia mampu mengembangkan empati terhadap mereka yang menghadapi masalah identitas dan orientasi terkait dengan jenis kelamin. Semoga.
Sumber: Mengapa Seks Itu Asyik (terjemahan) karya Jarod Diamond, terbitan KPG.
Minggu, 25 Oktober 2009
Sabtu, 10 Oktober 2009
sex
sex adalah gula-gula yang diberikan kepada makhluk hidup agar rela menjadi budak bagi gen-gen yang ingin menggandakan diri.
Selasa, 06 Oktober 2009
Kamis, 13 Agustus 2009
Cari dulu pendapat kedua, jangan buru-buru ikut Arab Saudi
Iseng-iseng aku membolak balik sebuah buku yang tergeletak di meja belajarku: Upaya Meningkatkan dan Melindungi Kesehatan Reproduksi TKIW yang diterbitkan oleh Galang Press. Aku skimming saja sampai aku terhenti pada paragraf yang menarik hatiku. Paragraf ini memperingatkan para TKIW tentang fakta bahwa walaupun negara-negara Arab banyak yang mengaku menganut hukum Islam sebenarnya yang menentukan hukum di sana adalah kekuasaan para emir. Buku ini melanjutkan dengan contoh berupa penentuan awal bulan Dzulhijah di Arab Saudi yang bisa berubah-ubah karena kepentingan ekonomi. Perlu diingat bahwa jika lebaran haji (10 Dzulhijah) jatuh pada hari jumat maka Raja harus menggaji pengawainya dua kali lipat karena pada saat itu terjadi Haji Akbar.
Pada titik itu aku teringat sesuatu dan ingatan tersebut membuatku melihat tahun penerbitan buku itu. Kudapati buku ini diterbitkan pada tahun 1999. Hmmmm. Yang sebenarnya kuingat adalah apa yang kubicarakan dengan saksi pernikahanku dari pihak kami mempelai laki-laki sesaat sebelum aku berijab kabul. Saat itu kami membicarakan bagaimana Arab Saudi merevisi penetapan awal bulan Dzulhijah untuk menghindari agar tidak terjadi Haji Akbar tahun itu dan raja tidak perlu membayar pegawainya dua kali lipat. Saati itu adalah tahun 2005, artinya enam tahun sejak diterbitkannya buku tersebut pengambilan keputusan tentang awal bulan di Arab Saudi masih seperti itu. (Aku masih heran, sempat-sempatnya aku membicarakan hal-hal seperti itu di detik-detik ijab kabulku)
Kemudian aku mendapati fakta lain. Adalah Syamsul Anwar dalam http://www.muhammadiyah.or.id/downloads/PENJELASAN_Syamsul_Anwar.pdf menjelaskan bahwa Arab Saudi dalam menetapkan awal bulan qamariyah mendasarkan diri pada terlihatnya hilal setelah ghurub artinya besok adalah awal bulan jika hari ini terlihat hilal setelah matahari terbenam. Sampai di sini tidak ada masalah. Ini hanyalah sebuah aliran dalam sekian banyak aliran dalam tradisi keislaman dalam menetapkan awal bulan. Namun masalahnya, ternyata seringkali kesaksian orang yang melihat hilal yang akhirnya diterima oleh pemerintah Arab Saudi banyak yang meragukan karena secara astronomis kesaksian tersebut diberikan padahal pada saat itu bulan masih di bawah ufuk jadi tidak mungkin terlihat. Dengan sarkastis Syamsul Anwar menyatakan ” Sama halnya dengan orang yang mengaku telah melihat bayi, pada hal sang bayi belum lahir, masih dalam perut ibunya, dan baru akan lahir beberapa jam kemudian”. Yang lebih fatal lagi, dalam penelitian beliau ternyata selama 46 kali ramadhan dari tahun 1961 s/d 2004 telah diterima kesaksian terlihatnya bulan padahal bulan secara astronomis masih di bawah ufuk sebanyak 29 kali atau 63.04%. Suatu jumlah kesalahan yang fantastis.
Saya dalam kesempatan ini memahami adanya komunitas-komunitas di dunia yang mengikuti penetapan Arab Saudi dalam hal penentuan awal bulan qamriyah. Mungkin di kesempatan lain saya akan membahas berbagai aliran dalam penentuan awal bulan.Namun demikian dalam kesempatan ini saya ingin menyampaikan bahwa ternyata banyak kesaksian orang yang melihat hilal yang dijadikan dasar penetapan awal bulan qamariyah oleh pemerintah Arab Saudi merupakan kesaksian yang tidak bisa diterima karena tidak mungkin secara astronomis. Ditambah lagi pertimbangan ekonomi dalam penetapan hari raya haji, ketepatan penetapan awal bulan di sana menjadi tidak konsisten dengan keyakinan metode yang mereka anut. Jadi bagi anda yang mengikuti penetapan awal bulan oleh pemerintah Arab Saudi sebaiknya anda mecari dulu second opinion atas penetapan mereka.
Senin, 20 Juli 2009
Jika Engkau
Jika Engkau memasukkan ke surga para teroris itu (Imam Samudra, Mukhlas, Amrozi, DR. Azahari, Noordin M. Top, dll.), maka Engkau bukan Tuhanku, dan jika demikian berilah aku kehormatan masuk ke dalam neraka-Mu.
Langgan:
Entri (Atom)