Rabu, 29 Oktober 2014

Spiritualitas Sekuler


Gambar diambil dari http://dodysaurus.deviantart.com

Akhirnya perjalanan ini menghantar Bratasena pada perjumpaan dengan Dewa Ruci yang tak lain adalah diri-sejati dari Sang Bratasena sendiri. 
Dalam pencapaian kesejatian diri ini tidak ada yang dirasakan olehnya 
selain kedamaian dan kebahagiaan yang tak pernah dirasakan sebelumnya.



Judul        : Waking Up: A Guide to Spirituality Without Religion
Penulis     : Sam Harris
Penerbit   : Simon & Schuster, New York
Cetakan    : I, September 2014
Tebal        : x + 245
ISBN        : 978-1-4767-7772-6


Secara umum perasaan sepi adalah sesuatu yang ingin dihindari dalam hidup kita. Jika kita amati, banyak kegiatan yang kita lakukan untuk sekedar membunuh sepi. Namun demikian, terkadang secara sengaja kita memilih untuk menyendiri dan menyepi untuk intim dengan diri kita sendiri. Bahkan, beberapa di antara kita secara rutin, walaupun cuma beberapa menit dalam sehari, memasuki keheningan pikiran melalui meditasi yang secara sistematis menggunakan metode tertentu untuk menyelami pikiran sendiri. Dari situ kita menyadari bahwa spiritualitas sebenarnya adalah ujung dari spektrum pilihan yang tersedia bagi kita dalam menggunakan pikiran.

Walau banyak buku yang membahas spiritualitas, buku Waking Up  karya Sam Harris ini membahas spiritualitas dengan cara yang berbeda dengan buku spiritualitas manapun. Dikenal sebagai pengkritik agama sejak menerbitkan buku The End of Faith pada tahun 2004, Sam Harris adalah seorang yang kritis terhadap kepercayaan yang tidak bisa dipertahankan secara ilmiah. Namun demikian, berbeda dengan para pengkritik agama secara umum ia sangat terbuka dengan spiritualitas.

The End of Faith  sendiri walaupun sangat tajam menunjukkan bahaya dari kepercayaan keagamaan, dalam buku tersebut Sam Harris juga memberikan apresiasinya terhadap laku spiritual. Sepuluh tahun sejak The End of Faith, buku Waking Up yang terbit di bulan September tahun ini adalah upaya Sam Harris untuk menunjukkan bahwa walaupun laku spiritual umumnya berkelindan dengan praktek keagamaan, spiritualitas sepenuhnya bersifat sekuler dan bisa dijalani tanpa perlu percaya terhadap gagasan keagamaan apapun.

Ada banyak cara mendefinisikan spiritualitas. Sam Harris  memulai dengan upaya manusia untuk mendapatkan kebahagiaan. Seseorang memulai kehidupan spiritual ketika orang tersebut mulai tidak puas dengan kebahagiaan yang diperoleh dari pemenuhan hasrat yang dirasakan sebagai kebahagiaan yang tidak stabil dan mudah lenyap. Lalu ia mulai mencari jawaban atas pertanyaan, apakah kita bisa berbahagia walau apapun yang terjadi?  Para mistikus dari berbagai zaman dan tradisi spiritual berpendapat bahwa pengalaman kebahagiaan tak bersyarat semacam itu bisa dialami pada saat yang sama ketika meraka mengalami lenyapnya “Sang Aku” sebagai subyek.

Menurut Sam Harris, spiritualitas terkait dengan gagasan bahwa apa yang kita sebut sebagai Sang Aku, yang kita rasakan sebagai subyek yang mengalami segala hal yang terjadi dalam benak kita berupa pikiran, perasaan dan pengalaman inderawi, adalah sebuah ilusi. Laku spiritual  dengan demikian adalah upaya memperdalam pemahaman dan pengalaman bahwa diri (self) adalah sebuah ilusi. Dengan demikian pencerahan (enlightment) tidak lain adalah pengalaman hilangnya diri yang oleh pelaku spiritual selalu diupayakan untuk dialami kembali dan dengan durasi yang makin panjang.

Di dalam The End of Faith, Sam Harris menduga  bahwa perasaan adanya diri sebagai subyek merupakan hasil representasi otak dari aktifitas representasi itu sendiri, misalnya aktifitas otak dalam melihat suatu obyek melahirkan subyek yang melihat. Aktifitas yang terjadi di dalam otak ini bisa dipandang sebagai sebuah proses dan sebagaimana proses pada umumnya aktifitas tersebut bisa diinterupsi. Tidak aneh jika seseorang  bisa merasakan hilangnya diri yang biasanya disebut sebagai pengalaman spiritual. Salah satu sumbangsih dari buku ini adalah keberanian Sam Harris untuk memberikan penilaian terhadap berbagai tradisi spiritual. Menurut Sam Harris hanya Buddhisme dan Advaita Vedanta yang secara jelas menyatakan bahwa laku spiritual adalah upaya membuka tabir ilusi adanya diri melalui pencurahan perhatian pada momen saat ini.

Dalam pencurahan perhatian pada momen saat ini tersebut, adalah kesadaran (consciousness) yang menjadi obyek investigasi. Kesadaran dalam hal ini adalah kondisi di mana pikiran, emosi, dan perasaan muncul. Namun hingga sekarang dunia ilmiah masih belum memahami apa itu kesadaran atau bagaimana kesadaran muncul pada makhluk hidup. Setidaknya kita memiliki dugaan kuat bahwa kesadaran muncul dari pengoraganisasian diri dari atom-atom yang tak sadar. Namun bagaimana pengorganisasian itu terjadi merupakan hal yang masih misterius.

Kesadaran juga bersifat subyektif, paling tidak isi dari kesadaran bersifat subyektif. Jika kita mau bertukar tempat dengan kelelawar, kemampuan inderawi kelelawar yang mampu melakukan ekolokasi dengan gelombang suara membuat dunia nampak berbeda dengan kesadaran kita sebagai manusia. Itu dari sudut pandang pengalaman inderawi saja, belum termasuk pengalaman emosional dan intelektual yang pastinya juga berbeda.  

Penelitian ilmiah hingga sekarang hanya dilakukan terhadap isi dari kesadaran saja, sementara penelitian langsung terhadap kesadaran nampaknya hanya bisa dilakukan oleh kesadaran itu sendiri. Dari sini spiritualitas yang tidak lain adalah investigasi terhadap kesadaran secara langsung merupakan hal yang tak ternilai dari upaya untuk memahami sifat dasar dari pikiran (mind).

Dalam buku ini Sam Harris juga menyampaikan betapa pengetahuan ilmiah yang kita miliki saat ini belum bisa bisa mengurai teka-teki terpenting dari hidup kita, yaitu  diri/ Sang Aku. Bersama dengan pikiran, perasaan dan pengalaman inderawi yang muncul di dalam kesadaran, Sang Aku juga muncul di dalam kesadaran yang kita rasakan sebagai subyek dari apapun yang muncul di dalam kesadaran. Sam Harris mengamini apa yang dialami oleh para mistikus bahwa kesadaran kita pada dasarnya tanpa subyek, dengan kata lain Sang Aku yang muncul di dalam kesadaran hanyalah ilusi.  

Sebagaimana ilusi yang lain, ilusi Sang Aku akan lenyap jika diamati secara ketat dan mendalam. Namun, berbeda dengan penyelidikan ilmiah yang lain, penyelidikan terhadap lenyapnya Sang Aku tidak bisa tidak harus kita lakukan sendiri di dalam laboratorium dunia batin kita sendiri. Menariknya, sebagaimana titik buta (blind spot) dalam penglihatan kita dan sebagaimana ilusi optik yang biasa kita alami setiap hari, ilusi adanya Sang Aku juga berada di depan mata tetapi hanya bisa disadari saat pengalaman tersebut diamati dan diselidiki secara ketat.

Dalam laku spiritual, pengalaman lenyapnya diri/Sang Aku umumnya diupayakan untuk diraih melalui meditasi. Melalui meditasi orang mengamati dan menjadi familiar dengan sifat dasar dari pikiran kita yang gemar berkelana dari satu pikiran ke pikiran yang lain. Penelitian menunjukkan bahwa pikiran yang berkelana tanpa arah lebih dekat kepada ketidakbahagiaan karena mensimulasikan masa lalu dan masa depan. Melalui meditasi penempuh jalan spiritual berusaha hadir pada momen saat ini yang merupakan realitas sebenarnya dari pengalaman-sadar kita.  Hadir pada momen saat ini membuat kita lebih bahagia kerena dengan demikian kita tidak hidup di masa lalu yang sudah berlalu dan masa depan yang belum datang.  

Untuk para pemula, Sam Harris menyarankan vipassana sebagai metode meditasi. Kualitas pikiran yang hendak dicapai melalui vipassana adalah mindfulness yaitu kondisi pikiran yang jernih dan hanya memperhatikan apa yang menjadi isi kesadaran tanpa memberikan penilaian, baik isi kesadaran tersebut menyenangkan atau tidak menyenangkan.

Terdapat paradoks dalam spiritualitas. Tujuan dari spiritualitas adalah terbebas dari ilusi diri, tetapi untuk mencapainya nampaknya seseorang justru harus memperkuat ikatan dengan momen saat ini. Sam Harris berusaha mengurai paradoks ini berdasarkan pengalaman dan pemahaman yang diperolehnya dalam perjalanan spiritual yang ditempuhnya.

Sebagai seorang meditator vipassana selama bertahun-tahun ia memperoleh banyak manfaat dari laku spiritual yang dia lakukan, namun demikian pengalaman hilangnya diri/Sang Aku hanya sekejap dirasakan dan hanya saat meditasi sangat mendalam. Sam Harris saat itu berpikir bahwa pengalaman itu tidak mungkin dirasakan dalam momen biasa di luar meditasi. Praktek meditasi yang biasa dilakukannya saat itu adalah jenis meditasi dualistik di mana sang meditator masih menggunakan Sang Aku sebagai subyek untuk mengamati kesadaran. Perjumpaan dengan Papaji murid dari Ramana Maharshi membuka mata Sam Harris terhadap pendekatan langsung nondualistik di mana ketiadaan diri dirasakan secara langsung. Papaji bahkan bisa dikatakan tidak mengajarkan meditasi karena baginya pengalaman ketiadaan diri bisa dialami langsung dan bisa dialami di luar meditasi.

Pelabuhan berikutnya yang disinggahi Sam Harris adalah tradisi Dzogchen a la Buddhisme Tibet yang serupa dengan pendekatan Papaji yang nondualistik.  Tradisi Dzogchen biasa disebut sebagai membalik tujuan menjadi jalan di mana lenyapnya diri yang biasanya menjadi tujuan meditasi dibalik menjadi jalan meditasi. Dalam Dzogchen, sang guru menunjukkan bagaimana pengalaman lenyapnya diri dialami dan kemudian sang murid berusaha untuk mengalaminya kembali. Berbeda dengan pendekatan Papaji-Ramana, pendekatan Dzogchen masih mempersyaratkan penempuh jalan spiritual untuk bermeditasi mindfullness dualistik sebagai familiarisasi atas sifat dasar kesadaran dan sebagai persiapan menuju meditasi nondualistik.

Sebagai sebuah buku panduan spiritual, terdapat bagian dalam buku ini di mana Sam Harris  memandu pembaca dalam mengamati apa saja yang muncul secara bergantian di dalam kesadaran. Pembaca didorong untuk memahami bahwa pada dasarnya isi dari kesadaran adalah tanpa subyek Sang Aku, bahwa  jika diamati secara mendalam kesadaran tidak terasa seperti Sang Aku. Sam Harris cenderung memilih instruksi spiritual yang sederhana dan jelas dan tidak segan memberikan kritik kepada tradisi Zen yang seringkali terasa kabur.

Salah satu instruksi spiritual yang sederhana dan jelas untuk memperoleh pengalaman ketiadaan diri diperoleh oleh Sam Harris dari Douglas Harding, seseorang yang memiliki posisi penting bagi kaum New Age. Prakteknya sederhana, yakni saat melihat sekeliling kita mencari kepala kita sendiri atau melihat sekeliling dengan membayangkan bahwa kita tidak memiliki kepala. Sam Harris meminta kita untuk tidak berjuang keras dalam latihan ini karena pengalaman ketiadaan kepala tidak berada jauh di dalam kesadaran sehingga memerlukan meditasi yang mendalam tetapi berada di permukaan kesadaran. Instruksi spiritual yang sederhana dan jelas seperti itu menurut Sam Harris lebih efektif daripada instruksi yang seringkali kabur dalam beberapa tradisi spiritual, misalnya dalam tradisi Zen.

Bagian terakhir sebelum penutup digunakan oleh Sam Harris untuk membahas beberapa isu di seputar spiritualitas. Misalnya, hubungan antara murid dan guru di mana seringkali terjadi penyalahgunaan kekuasaan oleh para guru spiritual. Satu yang pasti adalah bahwa walaupun seseorang telah mengalami pencerahan, dia tetap manusia biasa yang bisa melanggar batasan moral.

Sam Harris juga membahas peran drugs dalam kehidupan spiritual. Salah satu yang membuat Sam Harris menyadari bahwa kesadaran bisa mengalami hal luar biasa adalah pengalaman penggunaan Ekstasi (MDMA) pada saat usianya baru enam belas tahun. Cinta tanpa batas dan tanpa syarat yang dialami saat menggunakan Ekstasi membuat Sam Harris menyadari bahwa cinta, welas asih dan kebahagiaan atas kebahagiaan orang lain merupakan sebuah pengalaman yang mungkin untuk dialami. Namun demikian, penggunaan drugs oleh Sam Harris dianggap tidak bisa menggantikan laku spiritual karena sifatnya yang tak terkendali.

Sebagai semacam memoar spiritual buku ini memperkuat sisi Sam Harris sebagai sosok yang selalu membela penalaran ilmiah dengan melakukan penyelidikan yang jujur. Sekularisasi atas tradisi spiritual yang dilakukan Sam Harris di dalam buku ini merupakan sumbangsih yang penting bagi kita yang menginginkan kedamaian batin tetapi ragu-ragu untuk menempuh jalan spiritual karena terganggu dengan gagasan metafisis yang umumnya mengiringi tradisi spiritual.

Di sisi lain walaupun kadang spiritualitas oleh pelakunya dijadikan pelarian, pada prinsipnya spiritualitas bukan ditujukan sebagai pelarian dari kenyataan hidup yang dirasa menyesakkan atau dari upaya untuk membawa dunia menuju keadaan yang lebih baik. Adalah mulia berikhtiar untuk menciptakan dunia yang lebih baik, namun seringkali ketidakpuasan dalam proses ikhitiar tersebut membuat kita cukup menderita. Dalam buku Waking Up ini Sam Harris mencoba meyakinkan kita bahwa spiritualitas sekuler bisa membantu kita memperbaiki sikap batin dalam kehidupan pribadi atau sosial. Membaca buku 245 halaman ini membuat kita yakin bahwa kedamaian batin itu ada dan jalan sekuler untuk mencapainya pun tersedia.

Kamis, 26 Juni 2014

Artifisial 1, Alamiah 0

Siapa bilang yang alamiah lebih baik daripada yang artifisial? Saat minum ASI langsung dari ibunya, anakku Ale kadang tersedak karena aliran ASI terlalu kencang. Seharian kemarin Ale ditinggal ibunya dan meminum ASI dari dot, dia tidak pernah tersedak karena dot jaman sekarang sudah diberi perangkat untuk mengendalikan aliran ASI. Yang artifisial, dalam kasus ini, lebih baik daripada yang dirancang oleh alam.

Alam hanya punya metode trial-error. Percobaan dengan variasi, kemudian yang lebih buruk disingkirkan. Alam tidak benar-benar mendesain, alam hanya melakukan seleksi atas variasi. Dan tidak seperti manusia, saat merancang alam hanya berbekal keadaan terkini. Merancang dari nol atau memodifikasi secara radikal adalah sebuah kemewahan yang tidak dimiliki oleh alam. Jika manusia dirancang dari nol, tentu manusia tidak dirancang untuk mudah tersedak yang dalam beberapa kasus berakibat fatal. Manusia bukan hasil rancangan yang sempurna.


Berbeda dengan umumnya dipercaya, sesungguhnya natur manusia lebih banyak mengalami tekanan dari kultur yang manusia ciptakan sendiri. Jika semakin banyak ayah yang kontak dengan bayinya, varian laki-laki berpayudara akan memiliki keuntungan komparatif dibandingkan normalnya laki-laki saat ini. Lalu kekuatan alam yang bernama seleksi akan lebih memihak kepada laki-laki berpayudara dan dalam beberapa generasi akan kita dapati laBerbeda dengan umumnya dipercaya, sesungguhnya natur manusia lebih banyak mengalami tekanan dari kultur yang manusia ciptakan sendiri. Jika semakin banyak ayah yang kontak dengan bayinya, varian laki-laki berpayudara akan memiliki keuntungan komparatif dibandingkan normalnya laki-laki saat ini. Lalu kekuatan alam yang bernama seleksi akan lebih memihak kepada laki-laki berpayudara dan dalam beberapa generasi akan kita dapati laki-laki menyusui anaknya.

Minggu, 22 Juni 2014

Melewati atau tidak melewati pikiran

Siang tadi saat berbincang dengan teman-teman kantor tanganku melipat-lipat kertas struk belanjaan. Tiba-tiba saja di tanganku sudah terwujud sebuah perahu kertas. Sudah berkali-kali aku berusaha membuatkan perahu kertas untuk Janet, qurrata a'yun, tetapi selalu gagal. Aku benar-benar sudah lupa algoritma membuat perahu kertas, dan tanpa sadar siang tadi aku membuatnya.

Kejadian yang aneh juga pernah terjadi sewaktu usiaku belum memasuki dua digit. Saat itu aku berkunjung ke rumah teman dan melihat sebuah holahop dan langsung memainkannya. Sang tuan rumah menyatakan keheranannya dengan menyampaikan bahwa memainkan holahop itu tidak mudah. Dia lebih heran lagi saat tahu bahwa itu pertama kalinya aku memainkan holahop. Sialnya, ucapan sang tuan rumah adalah kutukan bagiku, aku tak bisa memainkan holahop lagi sejak itu. Di Jogja aku punya sebuah holahop yang terbuat dari rotan yang rencananya kugunakan untuk mengurangi lemak di pinggangku. Hingga sekarang aku tak bisa memainkannya.

Beberapa hal memang [lebih baik] tidak melewati pikiran.


Tetapi beberapa hal lebih baik melalui pikiran. Dengan reverse engineering, perahu kertas di tangan bisa kuurut balik sehingga aku sekarang bisa membuat kembali perahu kertas. Kali ini terjadi dengan penuh kesadaran.